
Indonesia akhir-akhir ini memang sedang menghadapi situasi yang kurang menggembirakan. Salah satu Paus Sastra Lampung
Isbedy Stiawan ZS menanggapi tagar yang viral #KaburAjaDulu dan #IndonesiaGelap.
Menurutnya, sejak kepemimpinan Presiden Jokowi, banyak informasi yang disebarkan oleh para buzzer mengenai keberhasilan yang tercapai. Namun, jika dilihat lebih dalam, banyak hal yang sebenarnya tidak berhasil seperti yang dibicarakan.
Proyek-proyek besar seperti kereta cepat Jakarta-Bandung, pembangunan jalan tol, bahkan Ibu Kota Negara (IKN) pada kenyataannya justru menambah beban utang negara yang belum jelas kapan akan terlunasi dan bagaimana cara untuk mengangsur utangnya.
Saat ini, di bawah pemerintahan Prabowo Subianto, dampak dari kebijakan-kebijakan tersebut mulai dirasakan oleh rakyat. Terlihat jelas dari langkah efisiensi yang diambil, yang menunjukkan bahwa keuangan negara sedang mengalami kesulitan. Bahkan, ada ancaman pemutusan hubungan kerja bagi karyawan TVRI dan RRI, yang menjadi bukti nyata bahwa situasi ekonomi memang sedang tidak baik.
Tagar #IndonesiaGelap muncul sebagai bentuk protes dari rakyat terhadap kondisi tersebut. Banyak yang berpendapat bahwa yang sebenarnya gelap adalah kehidupan rakyat, sedangkan elit negara tidak merasakannya.
Sebagai respons terhadap situasi ini, muncul tagar #KaburAjaDulu, yang menggambarkan keputusan sebagian orang untuk meninggalkan tanah air dan mencari kehidupan yang lebih baik di luar negeri, entah sebagai diaspora, pekerja migran, atau perantau. Mereka memilih untuk merantau sementara, berharap situasi di tanah air akan membaik sehingga mereka bisa kembali ke Indonesia.
Fenomena ini mengingatkan kita pada kisah tujuh pemuda dalam Alquran (ashabul kafi) yang memilih untuk berlindung di dalam goa bersama anjing mereka selama lebih dari 300 tahun, karena tidak ingin hidup di bawah pemerintahan seorang raja yang zalim. Sama halnya dengan mereka yang memilih untuk pergi sementara, mungkin mereka merasa perlu untuk menghindar dari ketidakpastian dan ketidakadilan yang sedang terjadi di tanah air.
“Negara perlu segera mengambil langkah konkrit untuk mencegah terjadinya eksodus besar-besaran. Rakyat mulai merasa bahwa lebih baik merantau ke luar negeri dan menghadapi tantangan di sana, daripada tetap tinggal di negeri yang juga penuh dengan tantangan. Sebagaimana tertuang dalam puisi saya.” Ungkap Isbedy Stiawan ZS ketika dikonfirmasi oleh jurnalis Kalanews.com.
TANAH BASAH LANGIT GELAP

Isbedy Stiawan ZS
ini saat musim basah
langit kau lihat gelap
saatnya jalanjalan ramai
dipenuhi api dari bakar
ban; asap melayang
jadikan langit makin pekat
kita kenakan kacamata hitam
yang sampai ke mata buram
katamu, kita tengah masuki
masa gelap. kembali kita
lewati kegelapan
kampung sepi, kota sunyi
ditinggalkan orangorang
pergi jauh ke kota yang jauh
“lebih baik hujan batu
di negeri orang,
kalau di negeri sendiri
juga terkena batu;
tubuh remuk!” katanya,
anakanak belia
menjinjing kopernya
ke entah negeri mana
memburu matahari lain
Lampung, 19 Februari 2025
Jurnalis: Aulia


