
**AMP3L Minta Polda Lampung Lindungi Mahasiswa Universitas Malahayati dari Konflik **
Bandar Lampung – Aliansi Masyarakat Peduli Pendidikan Provisi Lampung (AMP3L) mendatangi Polda Lampung pada Minggu Malam, 6 April 2025 untuk menyampaikan permohonan perlindungan terhadap mahasiswa Universitas Malahayati yang terancam terlibat dalam konflik akibat masalah keluarga. Mereka berharap konflik ini dapat diselesaikan secara damai tanpa menimbulkan dampak negatif terhadap ribuan mahasiswa yang terlibat.
Dalam pernyataannya, AMP3L menegaskan pentingnya menyelesaikan masalah yang berakar pada keluarga ini melalui musyawarah, bukannya dengan melibatkan kekerasan atau perseteruan antar kelompok. Koordinator AMP3L, Abdilah Rizaki, mengungkapkan bahwa konflik ini berpotensi meluas dan merugikan sekitar 7.000 mahasiswa Universitas Malahayati yang kini terjebak dalam ketegangan ini.
AMP3L juga mendapatkan informasi bahwa akan ada demo masa pada hari Senin, 7 April 2025 di depan Universitas Malahayati. Demo masa ini usut punya usut karena konflik keluarga untuk perebutan pengelolaan Universitas Malahayati.
“Masalah ini seharusnya diselesaikan secara kekeluargaan. Jangan sampai menjadi konflik antar kelompok yang dapat mempengaruhi kehidupan mahasiswa dan warga di sekitar kampus. Kami ingin mengingatkan bahwa kampus adalah tempat pendidikan, bukan tempat untuk konflik,” ujar Abdilah dalam konferensi pers di depan kantor Polda Lampung.
Aliansi ini menegaskan bahwa mereka bukan pihak yang terlibat dalam masalah keluarga yang menjadi pemicu konflik, namun mereka merasa memiliki tanggung jawab untuk melindungi kepentingan mahasiswa dan masyarakat sekitar, terutama mengingat banyaknya keluarga mahasiswa yang turut terimbas.
“Konflik ini telah menimbulkan ketegangan yang dapat merusak hubungan sosial di lingkungan kampus. Kami sebagai masyarakat dan keluarga dari mahasiswa Universitas Malahayati merasa wajib untuk mengambil sikap dan menyampaikan harapan kepada pihak berwajib agar situasi ini dapat diselesaikan secara bijak,” kata Farid, salah satu anggota AMP3L.
Dalam kesempatan yang sama Farid dan Apung, dua anggota aliansi lainnya, menambahkan bahwa potensi dampak dari konflik ini tidak hanya menyentuh mahasiswa, tetapi juga dapat mempengaruhi lingkungan sosial di sekitar kampus. “Kami sangat berharap agar Polda Lampung bisa memberi perlindungan kepada mahasiswa dari potensi ancaman atau kekerasan yang bisa timbul akibat konflik ini. Jangan sampai terjadi dampak yang lebih besar,” ujar Farid.
AMP3L juga mengingatkan bahwa Lampung telah beberapa kali mengalami konflik etnis, yang mana dampaknya tidak hanya dirasakan oleh pihak yang terlibat, tetapi juga oleh masyarakat luas. Mereka berharap peristiwa serupa tidak terulang di masa depan.
“Lampung punya sejarah yang tidak bisa diabaikan terkait konflik etnis. Kami berharap, ke depan, tidak ada lagi kekerasan yang mengancam ketenteraman masyarakat. Kami menginginkan solusi damai yang bisa meredakan ketegangan ini tanpa harus menambah korban,” kata Farid.
Lebih lanjut, AMP3L menyerukan agar semua pihak, baik dari kalangan mahasiswa, warga, maupun aparat keamanan, untuk bersama-sama menjaga kedamaian dan menghindari provokasi yang bisa memperburuk keadaan. “Kami berharap semuanya bisa menahan diri dan lebih mengutamakan dialog sebagai jalan penyelesaian, bukan kekerasan,” tutup Abdilah Rizaki.
AMP3L pun mengajak seluruh masyarakat Lampung untuk tidak terprovokasi dan bersama-sama menjaga kerukunan, terutama dalam menghadapi potensi konflik yang dapat merusak kedamaian dan keharmonisan di tengah masyarakat.
jurnalis : andri
editor: aulia

